Pada awalnya seseorang bergantung kepada ibu, ayah, pengasih, guru dan orang-orang tua disekitarnya, sampai satu saat ia belajar mandiri, tetapi tak semua orang melewati proses kemandiriannya dengan baik, bersih, menyenangkan.
Ada orang-orang yang harus melewati kisah yang penuh luka sehingga mereka harus merebut kemandiriannya, segera, terpaksa, karena menjadi korban itu menyakitkan, mengerikan.
Begitulah kisah Marjoun di film ini. Uniknya ia belajar berdamai (menjadi Islam ?) justru di kuil Buddha.
Para biksu di sana yang menginspirasinya untuk mengendarai motor sebagai simbol menjadi manusia yang mandiri, menjadi pengendali atas nasibnya sendiri.
Perjalanan mengenal diri sendiri ternyata tak selamanya manis, tetapi setelah seseorang bisa menjadi sutradara sekaligus pelakon di kisahnya sendiri, ia pasti bisa melampaui tantangan-tantangan berikutnya, "Disitulah manisnya !".
Setidaknya, bagian yang tersulitnya sudah dilampaui.
No comments:
Post a Comment