HOTEL MUMBAI. Untuk beberapa orang, pekerjaan adalah masalah kehormatan, apapun yang terjadi mereka akan terus menunaikan pekerjaannya dengan sebaik-baiknya.
Begitulah sikap para pegawai di Hotel Mumbai ini, pun di saat para teroris menyeruak masuk, lalu dengan brutal membunuhi siapapun di hotel itu.
Banyak pegawai hotel itu yang gugur bak seorang pahlawan,yang gigih melaksanakan tugas 'sucinya', melindungi dan melayani tamunya.
Ada beberapa yang selamat, yang terus berjuang sampai di akhirnya, di mana mereka diselamatkan oleh para polisi dan tentara yang menyelusup dan luar.
Mereka inilah yang main kucing-kucingan, merawat, menyelamatkan, melindungi para tamunya, sampai menjadi saksi atas berpulangnya para teroris itu, satu persatu, tertembak, digranat.
"Jihad", kata sang pimpinan teroris di telepon genggam mereka, yang sampai hari ini tidak diketahui siapa, dari mana.
Sebelum tertembak, salah satu dari teroris itu sempat menghubungi orangtuanya untuk menyatakan rasa kasihnya, lalu memohon jawab atas pertanyaan, *Sudah ada uangnya ? Sudah keterima ?*
Siapakah yang menjadi pahlawan di peristiwa ini ?
Para teroris, yang bersimbah darah, sang pencabut nyawa, yang membunuhi, menembaki, melukai perempuan, laki-laki, tua, muda ?
Ataukah para pegawai hotel, yang bersimbah peluh, sang penyelamat, yang melindungi, merawat, melayani, perempuan, laki-laki, yang tua-muda, termasuk bayi ?
Siapun itu, pastinya ia adalah orang yang paling berani mengangkat wajahnya, ketika berpulang, berhadapan dengan Sang Khaliknya nanti.
"Ya Allah, terimakasih atas kesempatan hidup yang Kau berikan, ijinkanlah aku bersatu dengan cahayaMu".
Siapakah dia ? Kisah nyata, film Australia, Netflix.
No comments:
Post a Comment