Banyak cara untuk menjadi kaya, sebagian dengan cara yang benar, sebagian lagi dengan cara yang salah, setidaknya merugikan orang lain, membuat mereka resah, gelisah, kehilangan pegangan.
Dunia ini diciptakan untuk kebaikan, maka keburukan lama-lama akan tergusur juga, lalu dunia akan kembali aman, nyaman, tentram, walaupun untuk sementara.
Film ini menarik karena kekayaan yang ingin diperoleh si tokoh adalah dengan menjual paham ateisme.
Siapa sangka, bak kacang goreng, ide itu laku dijual, banyak orang di seluruh dunia yang membelinya dengan cara memberi sumbangan dari beberapa dolar sampai ribuan dolar.
Uang-uang sumbangan itu lalu digunakan untuk meraih sumbangan yang lebih besar lagi, lebih besar lagi, lebih besar lagi, sampai di titik puncaknya, semua lalu bergerak mundur, apa yang ada lalu tiada, blas, amblas,
"Kemana uangnya ?" Tak jelas rimbanya. Begitulah kisah tentang uang haram, panas membakar, tak ada bekasnya.
Menyesalkan di tokoh ? Tidak, ia hanya memperjuangkan hak untuk tidak beragama sebagai bagian dari menghargai semua agama dan ia lakukan itu untuk memenuhi kodratnya sebagai perempuan, ibu dan nenek, yang harus melindungi keluarganya.
Terlindungikah keluarganya ? Nah, semua orang hanya bisa berniat 'kan ?
Film keren. Kesan miskin (lahir-batin), dangkal, yang menggambarkan karakter seluruh tokoh jelas bisa ditangkap dari awal sampai akhir film.
No comments:
Post a Comment